KEBERSIHAN LINGKUNGAN

Oleh: Nur Kholis[1]

An-Nadhofatu min al-Iman, kebersihan adalah bagian dari iman merupakan sebuah ungkapan yang sudah populer di tengah-tengah masyarakat. Kaligrafi yang menyangkut tentang kebersihan juga banyak dijumpai di dinding-dinding lembaga pendidikan atau di tempat-tempat ibadah. Hal ini bertujuan untuk memberikan motivasi kepada setiap masyarakat agar membiasakan hidup bersih, karena dengan hidup bersih akan membawa dampak positif bagi masyarakat itu sendiri. Selain nyaman dan indah, kesehatan yang terjaga juga merupakan salah satu manfaat dari menjaga kebersihan.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, seorang muslim harus senantiasa memperhatikan kebersihan tempat tinggalnya. Ia harus rajin membersihkan apabila tempat tinggalnya kotor agar terhindar dari berbagai penyakit yang akan timbul akibat bakteri-bakteri yang tumbuh dari sampah-sampah yang berserakan.

Di dalam Islam, kebersihan merupakan suatu hal yang telah menjadi pembahasan penting. Masalah yang menyangkut tentang kebersihan telah menjadi pembahasan para ulama sejak dulu. Hal ini terbukti akan banyaknya ulama yang menulis kitab-kitab fikih yang selalu dimulai dari bab thaharah. Ini menunjukkan bahwa masalah kebersihan merupakan hal yang sangat diutamakan dalam Islam sebelum melakukan ibadah yang lain semisal shalat, membaca al-Qur’an dan lain-lain.

Umat muslim haruslah bersih, baik bersih hati maupun bersih pakaian dan lingkungannya. Terdapat beberapa ayat al-Qur’an yang memberikan nasehat kepada umat muslim agar menjaga kebersihan lingkungannya.

Tempat ibadah umat Islam adalah masjid. Maka, masjid harus senantiasa dijaga kebersihannya. Masjid haruslah selalu bersih dan indah. Bersih lantainya atau karpetnya. Allah berfirman:

وَإِذْجَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَآ إِلىَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail:”Bersihkanlah rumah-ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’, dan yang sujud.” (QS. Al-Baqoroh: 125)

Ayat di atas menceritakan mengenai kisah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. yang mendapatkan perintah dari Allah untuk membersihkan Ka’bah atau Baitullah dari beberapa hal yang mengotorinya.

Para ulama memberikan tafsir atau interpretasi mengenai maksud أَن طَهِّرَا dalam ayat ini dengan arti membersihkan dari kesyirikan dan keraguan, serta membersihkan dari berhala.[2] Secara umum, ayat tersebut juga memberikan isyarat kepada masyarakat agar memperhatikan kebersihan tempat ibadahnya. Masjid atau mushala haruslah dijaga kebersihannya. Baik lantai, tikar atau hambalnya.[3] Termasuk pula tempat wudhu dan kamar mandinya. Hal ini bertujuan agar ibadah yang dilakukan bisa lebih khusyu’ dan nyaman.

Kemudian mengenai menjaga kebersihan pakaian, terdapat ayat yang memberikan isyarat dengan jelas akan pentingnya memperhatikan kebersihan pakaian. Allah berfirman:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

Artinya: “Dan pakaianmu bersihkanlah!” (QS. Al-Mudatsir :4)

Dari ayat tersebut dapatlah diketahui bahwa menjaga kebersihan pakaian merupakan hal yang penting. Pakaian harus selalu bersih dan rapi meski tidak harus yang mahal, lebih-lebih dalam berdakwah. Rasulullah saw. adalah suri teladan yang baik dalam hal menjaga kebersihan. Rasulullah saw. sangat menyukai memakai pakaian yang berwarna putih. Sebagaimana diketahui secara umum bahwa pakaian yang berwarna putih adalah pakaian yang jika terkena noda maka akan mudah kelihatan nodanya tersebut. Maka orang yang mengenakan pakaian berwarna putih akan terdorong untuk selalu menjaga dan memperhatikan kebersihan pakaiannya.

Membersihkan pakaian dari najis-najis adalah termasuk kesempurnaan sebelum melakukan suatu amalan, khususnya sholat. Sebagaimana banyak ulama yang menyatakan bahwa menghilangkan najis merupakan syarat sah sholat. Ayat ini menyuruh untuk membersihkan pakaian dari segala najis di setiap waktu, lebih-lebih ketika hendak sholat. Karena membersihkan suatu hal yang nampak (dhohir) merupakan kesempurnaan kebersihan batin.[4]

Dalam sebuah hadits mengenai kaidah-kaidah Islam yang telah dinukil oleh Imam Nawawi dalam Hadits Arba’in, ia menyebutkan sebuah hadits yang menceritakan tentang seseorang yang datang kepada Nabi Muhammad saw. kemudian bertanya mengenai Islam, iman, ihsan  dan hari kiamat. Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa orang yang bertanya pada Nabi adalah orang yang memakai pakaian putih bersih, bahkan para sahabat yang ikut melihatnya tidak menemukan tanda-tanda bahwa orang yang bertanya tersebut habis melakukan perjalanan jauh, hal ini karena tidak ada tanda-tanda kusut di pakaian yang dikenakan orang tersebut.[5]

Hadits tersebut mengajarkan adab yang sangat baik, bahwa ketika hendak bertemu dengan seseorang, maka sebelumnya kita harus memperhatikan kebersihan pakaian kita, terlebih lagi ketika hendak pergi menuntut ilmu atau bertemu dengan seorang guru. Karena dengan memakai pakaian yang bersih adalah sebagai tanda kita menghormati dan menghargai orang lain yang ada di sekitar kita. Sehingga dapat disimpulkan bahwa menjaga penampilan atau kebersihan pakaian adalah hal yang betul-betul diperhatikan dan penting dalam Islam.

Kemudian ayat megenai kewajiban untuk mandi junub bagi seorang perempuan muslim ketika selesai haidh. Allah berfirman:

وَيَسْئَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَآءَ فِي الْمَحِيضِ وَلاَتَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah:”Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintakan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqoroh: 222)

Ayat di atas menjadi dasar akan wajibnya mandi junub bagi perempuan setelah selesai haidh.[6] Lafal يَطْهُرْنَ memiliki arti berhentinya darah haidh, jika dibaca dengan tasydid maka lafal يَطَّهَرْنَ memiliki arti يَغْتَسَلْنَ yakni mandi.[7] Madzhab Syafi’iyah menjelaskan maksud mereka telah suci, artinya adalah mereka telah mandi. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Fathimah ra., “Jika haidh datang, maka tinggalkanlah sholat. jika telah berlalu, maka mandilah dan kerjakanlah sholat.”[8]

Menjaga kebersihan merupakan hal yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Seorang muslim haruslah bersih, karena bersih adalah suci dan suci adalah bagian dari iman. Sebuah hadits mengabarkan bahwa kesucian adalah bagian dari iman.

الطُّهُوْرُ شَطْرُ الإِيْمَانِ

Artinya: “Kesucian (kebersihan) adalah bagian dari iman.” (HR.Muslim)

Sebagian ulama memberikan keterangan hadits tersebut dengan mengatakan bahwa siapa yang membersihkan hatinya, berwudhu, mandi dan menunaikan sholat, maka ia berarti menunaikan sholat dengan dua kesucian sekaligus. Yakni kesucian hati dan anggota badan.[9] Dengan demikian, kebersihan anggota badan merupakan hal yang mesti selalu diperhatikan.

Menjaga kebersihan merupakan ajaran yang sangat mulia dan agung. Tinggi rendahnya mutu peradaban suatu masyarakat bisa dinilai dari perhatian terhadap kebersihan lingkungan tempat tinggal dan pakaiannya.

Masyarakat yang berperadaban tinggi akan selalu menjaga kebersihan lingkungannya. Hal ini dikarenakan mereka telah menyadari bahwa kebersihan merupakan hal harus dijaga untuk bisa meningkatkan kemajuan sebuah peradaban. Peradaban yang tinggi adalah peradaban yang masyarakatnya sehat dan makmur. Dan sehat bisa didapatkan jika kebersihan terjaga.

Kesehatan adalah mahkota berharga bagi orang yang hidup di dunia ini. Kesehatan yang terjaga akan menjaga kestabilan aktifitas masyarakat dalam menjalani rutinitas kesehariannya. Kesehatan adalah manfaat yang timbul karena kebersihan yang selalu terjaga. Jika suatu peradaban ingin menjadi peradaban yang berkemajuan, maka peradaban tersebut harus memperhatikan kebersihan lingkungannya.

 

 

 

Daftar Pustaka

Al-Bugha, Musthafa Diib. 2009. Fikih Islam Lengkap, Penjelasan Hukum-Hukum Islam Madzhab Syafi’i, terj. D.A Pakihsati. Surakarta. Media Zikir.

An-Nawawi, Yahya bin Syarofuddin. 2014. Syarah Hadits Arba’in, terj. Hawin Murtadlo dan Shalahuddin Abu Sayid. Sukoharjo. Al-Qowam.

Ash-Shabuni, Muhammad Ali. 2004. Tafsir Ayat al-Ahkam Min al-Qur’an. Beirut. Dar Ibn ‘Ashoshoh.

As-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. 2003. Taisir al-Karim al-Rohman fii Tafsir Kalam al-Manan. Beirut. Dar Ibn Hazm.

Ibn Katsir, Imad al-Din Abi al-Fida Isma’il. 2000. Tafsir al-Qur’an al-Adzim. Kairo. Mu’asasah Qurthubah.

Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI. 2009. Pelestarian Lingkungan Hidup, Tafsir al-Qur’an Tematik. Jakarta. Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an.

 

[1]Penulis adalah alumni PP. Al Mizan Muhammadiyah Lamongan tahun 2011, kemudian melanjutkan study di Ma’had ‘Aly Baitul Qur’an Wonogiri, Jawa Tengah, lulus tahun 2013, dan sekarang melanjutkan study di IAIN Surakarta mengambil jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir.
[2]Lihat, Imad al-Din Abi al-Fida Isma’il Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adzim, Jilid 2 (Kairo: Mu’asasah Qurthubah, 2000), hlm. 66-67.
[3]Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, Pelestarian Lingkungan Hidup, Tafsir al-Qur’an Tematik, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an, 2009), hlm. 244.
[4]Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisir al-Karim al-Rohman fii Tafsir Kalam al-Manan, (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2003), hlm. 856.
[5]Lihat, Yahya bin Syarofuddin an-Nawawi, Syarah Hadits Arba’in, terj. Hawin Murtadlo dan Shalahuddin Abu Sayid, (Sukoharjo: Al-Qowam, 2014), hlm. 41.
[6]Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisir al-Karim al-Rohman fii Tafsir Kalam al-Manan…,hlm. 84.
[7]Lihat, Muhammad Ali ash-Shabuni, Tafsir Ayat al-Ahkam Min al-Qur’an, Jilid 1 (Beirut: Dar Ibn ‘Ashoshoh, 2004), hlm. 207.
[8]Musthafa Diib al-Bugha, Fikih Islam Lengkap, Penjelasan Hukum-Hukum Islam Madzhab Syafi’i, terj. D.A Pakihsati, (Surakarta: Media Zikir, 2009), hlm. 49.
[9] Lihat, Yahya bin Syarofuddin an-Nawawi, Syarah Hadits Arba’in…,hlm.183.