Menjadi Al-Quran Berjalan

Oleh : Thoyibul Ihsan*

Seluruh umat Islam sepakat, bahwa Al quran merupakan panduan utama untuk mereka meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Namun tentunya hal itu tidak hanya menjadi ucapan belaka, butuh adanya realisasi nyata. Maka kewajiban utama adalah menjadikan Al quran jalan hidup dan berjalan dengannya dalam segala aspek kehidupan.

Ummul mu’minin Aisyah ra. pernah ditanya tentang bagaimana Akhlaq Rasulullah, beliau berkata :
‘ كان خلقه القرآن ‘
( Akhlaq Rasulullah adalah Al Quran ). Jawaban yang singkat ini menyampaikan pada kita bahwasannya Rasulullah telah sampai pada tingkatan dimana segala bentuk gerak-gerik dalam kehidupan beliau senantiasa mencerminkan apa yang ada dalam Al Qur’an. Oleh karenyanya seringkali pula para sahabat menyebut beliau ibarat Al Quran yang berjalan. Tentunya hal ini tidak mengherankan karena beliau SAW. memang sang pengemban risalah. Namun pastinya akan menjadi luar biasa bila seorang manusia biasa mampu meniru seperti halnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.

Para sahabat radhiyallahu anhum sepenuhnya menyadari hal tersebut, oleh karenanya mereka menjadi generasi pertama yang berlomba-lomba menjadi seperti Rasulullah SAW. dengan menjadikan diri mereka masing-masing bagaikan Al Quran yang berjalan dimuka bumi. Maka tidak heran ketika para sahabat mulai bertebaran dimuka bumi untuk berdakwah, manusia mulai berbondong-bondong masuk kedalam agama Islam di seluruh jazirah Arab, dan hendaknya seperti inilah yang harus dilakukan oleh setiap generasi umat ini.

Menjadi Al Quran berjalan berarti usaha merubah segala bentuk perbuatan kita sesuai ajaran dan tuntutan dari Al Quran. Bila hendak berbicara misalnya, maka yang tercermin dari lisan kita haruslah firman Allah :
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” [Surat Al-Ahzab 70]

Begitu pula ketika berjalan, maka yang tegambar dari setiap langkah kita adalah kalam Allah :
(وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا)
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”[Surat Al-Furqan 63]

Dan juga, ketika kita hendak menyeru manusia kepada kebenaran maka yang tercermin adalah firman Allah :
(ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ)
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Surat An-Nahl 125]

Begitu seterusnya, dalam segala aspek kehidupan kita yang tercermin adalah Al Quran, begitu juga dalam memimpin bangsa, berkeluarga, berteman, berbakti kepada orang tua, bahkan yang tidak kalah penting juga adalah dalam hal memilih pemimpin. Maka sekarang yang menjadi PR besar kita ialah untuk selalu mempelajari Al Quran, memahami makna-makna di dalamnya, hingga kita tahu arahan dan koridor yang telah di tetapakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam Al Quran untuk kita, guna meraih kebahagian di dunia dan di akhirat.

_Allahummarhamna bil quran._

Thoyyibul Ihsan, Beliau adalah alumni Al-Mizan tahun 2011. Mahasiswa semester 7 di Fak. Syariah di LIPIA Jakarta.